PKS dan Gerbong eksklusif

November 24, 2008 at 7:13 am (Dakwah dan Harta) (, , , )

Ada tulisan yang sangat menarik di warnaislam.com tentang PKS,

Maaf, bila ada yang merasa bahwa kini PKS sudah tidak ‘seindah yang dulu’. Maaf bila maaf saya tidak berkenan bagi semua orang.
Saya hanya ingin menggugah semua orang yang membaca tulisan saya, bahwa memang PKS telah berubah menjadi partai yang sesuai dengan habitatnya sebagai sebuah partai.
Saya mendengar banyak sekali keluhan mereka yang tidak puas, yang kecewa, yang menghujat, yang ingin agar PKS kembali seperti dulu, partai yang berjalan sesuai dengan marhalah dakwah.

Juga politisinya seperti Anis Matta dan Ahmad Heryawan.

Marilah kita pisahkan antara partai dan politisi. Saya tahu bahwa seorang Anis Matta itu memang ‘sudah kaya’ sebelum dia menjadi seseorang di PKS. Dari hasil dia bekerja, wajar saja bagi saya bila dia punya mobil mewah. Saya dengar bahwa beliau menyumbangkan mobil Avanza miliknya demi kepentingan dakwah Al-Manar. Bukankah itu sudah mencukupi dan kita anggap itu buah rasa syukur dia?

Eh.. eh.. kok saya jadi seperti membelanya ya? Apa ada ‘main-main’? Sumpah demi Allah, tidak ada. Kenal secara pribadi juga tidak. Saya tahu siapa dia, tapi dia tidak pernah kenal saya.
Ahmad Heryawan, yang dulu saya tahu bagaimana saat masih ikut liqo datang dengan segala kesederhanaannya, tapi sekarang coba lihat? Sudah jadi gubernur dia. Sudah biasa naik turun mobil. Sudah lupa sama teman satu liqo nih? Nggak..

Tapi, apa salah Anis Matta, kalau dia menjadi kaya? Apa salah Ahmad Heryawan menjadi seorang yang kaya? Apa harus selamanya sederhana seperti saat dia dulu masih liqo sama kita-kita? Hmm.. tidak juga menurut saya.

Tulisan yang cukup berimbang. Salah satu komentar tulisan itu juga sangat menarik, tentang fatalisme.

Kritis namun optimis. Saya suka, karena kebanyakan kita memang sudah tenggelam dalam lembah apatis dan pesimistis. Bukan saja pada PKS tapi pada kehidupan. Hari-hari penuh sakit hati, caci maki, gerutu dan ngambek membuat ruang berfikir positif jadi hilang. Lihat saja gaya bicara, gerak-gerak jari di atas keyboard semua sudah mencerminkan hilangnya asa. Baik dengan menyebut nyebut nama Allah atau pun tidak, yang terpancar hanya rasa imperioritas, tak punya harapan akan sebuah kebaikan. Harapan buruk selalu dalam benak. Padalah Allah SWT mengingatkan agar kita berhati hati dengan prasangka. Lihat saja obrolan di warung-warung hingga diskusi-diskusi dunia virtual, tak ada lagi harapan baik yang terang menguak. Yang ada hanya pernyataan-pernyataan gaya diktator yang haram untuk dibantah. Tidak ada secuilpun kebenaran pada ranah lain, semua yang benar seakan sudah masuk dalam kuasanya. Fakta kebaikan sudah tidak lagi relevan dibanding dengan permainan kata yang dibungkus ayat-ayat. Perasaan ini sudah lebih percaya kabar buruk dari pada kabar baik. Seribu kebaikan tidaklah cukup lagi untuk menutupi satu kekurangan. Yang lain hina dan kitalah seolah kebenaran. Oh umat di negeri kelabu. Kabut gelap yang kita sebarkan sendiri membuat kita tak mampu lagi melihat saudara yang harusnya kita cintai. Dalam kabut ini kita malah lebih senang menjotos muka saudara kita dari pada menggandeng tangannya.

“Tuh, kan memang dia jelek. Tuh, kan memang dia jahat. Tuh, kan memang dia gila”. atau bahkan “Tuh, kan memang dia kafir”. Rentetan kalimat yang lebih sering kita dengar atau baca sekarang. Tiada lagi pancaran aura positif di dalamnya. Kita bukan hanya tenggelam dalam aura sesat ini, namun lebih dari itu, kita juga senang membagikannya kepada saudara kita. Hal ini akhirnya menjadi keasyikan yang menyenangkan dari pada keluar darinya dan memulai benih-benih harapan akan kebaikan. Dimana dapat kami temui bibit ke optimisan? Susah cari jawabnya.

Manusia-manusia virtual yang hidup dimenara gading. Sudah lupa turun ke lapangan realita. Bangga dengan tampak cerdas dengan tumpukan kitab-kitab namun sesungguhnya tumpul akan jeritan sosial. Lebih senang terkungkung dalam ruang persegi daripada berbaur dalam peluh masyarakat. Nyaman dengan lontaran kirtik yang tidak solutif dan lupa akan aksi implementatif. Bagi mereka yang semacam ini, bukan hanya PKS tapi dunia dan akhirat pun tak pantas diharapkan.

2 Comments

  1. Cahyani said,

    “Bagi mereka yang semacam ini, bukan hanya PKS tapi dunia dan akhirat pun tak pantas diharapkan.”

    Untuk tulisan di atas saya setuju, kecuali statement satu kalimat saja tersebut. KAlimat yang hanya satu saja itu bisa memancing emosi dan memperpanjang masalah. Maaf.

  2. Reza Primardiansyah said,

    Iya, mbak. Komentar itu tampaknya mengkritisi sikap fatalistik. Semoga dia pun tidak terjebak sikap yang sama.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: