Daftar Kekayaan Anis Matta, buat yang masih penasaran
Vivanews paparkan profil ust Anis Matta termasuk kekayaannya. Lihat sendiri saja di sini. Gedenya di Tanah dan Bangunan. Posisinya sebagai Preskom dan Komisaris mungkin bisa jelaskan sumbernya.
Semoga bisa jadi bahan tabayyun.
PKS jagokan Tutut?
Heboh-heboh soal PKS dan Tutut Soeharto menarik juga. Sampai-sampai dikatakan “Selain itu PKS juga menominasikan putri sulung HM Soeharto, Mbak Tutut sebagai salah satu calon pemimpin masa depan” Kucari-cari ada apa, kudapatkan di sini
Sebab, PKS, telah memasang iklan di salah satu tabloid dan majalah yang berisi tentang siapa tokoh perempuan yang dianggap berjasa bagi bangsa ini.
Di dalam iklan itu, lanjutnya, masyarakat dapat mengusung calonnya dengan mengirimkan SMS. “Terkumpul 600 atau 700 SMS, dan sekitar 50-an terkumpul nama,” jelasnya.
Beberapa nama yang terdaftar, di antaranya Mira Lesmana, Neno Warisman, Bunda Ifet, Tuty Alawiyah, Nia Dinata, Dian Sastro, Ani Soetjipto, Dewi Motik, dan Maria Hartiningsih.
Selain itu ada Toeti Aditama, Rosiana Silalahi, Siti Hardijanti Indra Rukmana (Tutut), Megawati Soekarnoputri, Khofifah Indar Parawansa, Sri Mulyani, Meuthia Hatta, dan sejumlah nama lainnya.
Juga
Masuknya Tutut dalam barisan calon penerima penghargaan, menurut Mabruri, bukan hasil setting internal PKS. Adalah keinginan masyarakat yang dijadikan alasan PKS memasukkan Tutut dalam daftar.
Bahkan
ama Mbak Tutut baru dalam tahap usulan dari masyarakat. Belum masuk nominasi. Bahkan setahu saya, ranking Mbak Tutut dan Megawati berada pada posisi bawah, sekitar urutan 20 dan 21-an,” katanya.
Kuharap ini bisa luruskan persepsi yang agak salah seperti yang ada di link pertama di atas tadi. Tanggal 18 Desember masih jauh. Kalau mau berduyun-duyun ajukan orang yang lumayan bersemangat, masih sempat.
PKS dan Gerbong eksklusif
Ada tulisan yang sangat menarik di warnaislam.com tentang PKS,
Maaf, bila ada yang merasa bahwa kini PKS sudah tidak ’seindah yang dulu’. Maaf bila maaf saya tidak berkenan bagi semua orang.
Saya hanya ingin menggugah semua orang yang membaca tulisan saya, bahwa memang PKS telah berubah menjadi partai yang sesuai dengan habitatnya sebagai sebuah partai.
Saya mendengar banyak sekali keluhan mereka yang tidak puas, yang kecewa, yang menghujat, yang ingin agar PKS kembali seperti dulu, partai yang berjalan sesuai dengan marhalah dakwah.
Juga politisinya seperti Anis Matta dan Ahmad Heryawan.
Marilah kita pisahkan antara partai dan politisi. Saya tahu bahwa seorang Anis Matta itu memang ’sudah kaya’ sebelum dia menjadi seseorang di PKS. Dari hasil dia bekerja, wajar saja bagi saya bila dia punya mobil mewah. Saya dengar bahwa beliau menyumbangkan mobil Avanza miliknya demi kepentingan dakwah Al-Manar. Bukankah itu sudah mencukupi dan kita anggap itu buah rasa syukur dia?
Eh.. eh.. kok saya jadi seperti membelanya ya? Apa ada ‘main-main’? Sumpah demi Allah, tidak ada. Kenal secara pribadi juga tidak. Saya tahu siapa dia, tapi dia tidak pernah kenal saya.
Ahmad Heryawan, yang dulu saya tahu bagaimana saat masih ikut liqo datang dengan segala kesederhanaannya, tapi sekarang coba lihat? Sudah jadi gubernur dia. Sudah biasa naik turun mobil. Sudah lupa sama teman satu liqo nih? Nggak..Tapi, apa salah Anis Matta, kalau dia menjadi kaya? Apa salah Ahmad Heryawan menjadi seorang yang kaya? Apa harus selamanya sederhana seperti saat dia dulu masih liqo sama kita-kita? Hmm.. tidak juga menurut saya.
Tulisan yang cukup berimbang. Salah satu komentar tulisan itu juga sangat menarik, tentang fatalisme.
Kritis namun optimis. Saya suka, karena kebanyakan kita memang sudah tenggelam dalam lembah apatis dan pesimistis. Bukan saja pada PKS tapi pada kehidupan. Hari-hari penuh sakit hati, caci maki, gerutu dan ngambek membuat ruang berfikir positif jadi hilang. Lihat saja gaya bicara, gerak-gerak jari di atas keyboard semua sudah mencerminkan hilangnya asa. Baik dengan menyebut nyebut nama Allah atau pun tidak, yang terpancar hanya rasa imperioritas, tak punya harapan akan sebuah kebaikan. Harapan buruk selalu dalam benak. Padalah Allah SWT mengingatkan agar kita berhati hati dengan prasangka. Lihat saja obrolan di warung-warung hingga diskusi-diskusi dunia virtual, tak ada lagi harapan baik yang terang menguak. Yang ada hanya pernyataan-pernyataan gaya diktator yang haram untuk dibantah. Tidak ada secuilpun kebenaran pada ranah lain, semua yang benar seakan sudah masuk dalam kuasanya. Fakta kebaikan sudah tidak lagi relevan dibanding dengan permainan kata yang dibungkus ayat-ayat. Perasaan ini sudah lebih percaya kabar buruk dari pada kabar baik. Seribu kebaikan tidaklah cukup lagi untuk menutupi satu kekurangan. Yang lain hina dan kitalah seolah kebenaran. Oh umat di negeri kelabu. Kabut gelap yang kita sebarkan sendiri membuat kita tak mampu lagi melihat saudara yang harusnya kita cintai. Dalam kabut ini kita malah lebih senang menjotos muka saudara kita dari pada menggandeng tangannya.
“Tuh, kan memang dia jelek. Tuh, kan memang dia jahat. Tuh, kan memang dia gila”. atau bahkan “Tuh, kan memang dia kafir”. Rentetan kalimat yang lebih sering kita dengar atau baca sekarang. Tiada lagi pancaran aura positif di dalamnya. Kita bukan hanya tenggelam dalam aura sesat ini, namun lebih dari itu, kita juga senang membagikannya kepada saudara kita. Hal ini akhirnya menjadi keasyikan yang menyenangkan dari pada keluar darinya dan memulai benih-benih harapan akan kebaikan. Dimana dapat kami temui bibit ke optimisan? Susah cari jawabnya.
Manusia-manusia virtual yang hidup dimenara gading. Sudah lupa turun ke lapangan realita. Bangga dengan tampak cerdas dengan tumpukan kitab-kitab namun sesungguhnya tumpul akan jeritan sosial. Lebih senang terkungkung dalam ruang persegi daripada berbaur dalam peluh masyarakat. Nyaman dengan lontaran kirtik yang tidak solutif dan lupa akan aksi implementatif. Bagi mereka yang semacam ini, bukan hanya PKS tapi dunia dan akhirat pun tak pantas diharapkan.
Anak jalanan
Semalam, pulang mudik, aku berhenti di persimpangan lampu merah Pasar Rebo. Aku melihat seorang gadis kecil berumur 6-7 tahunan, mengamen (mengemis) sambil menggendong bocah berumur 1-2 tahunan (mungkin adiknya). Gendongannya melorot. Dia kesulitan menaikkan lagi gendongannya. Kesulitannya itu tampak menyakitkan adiknya yang lantas menangis. Ingin rasanya aku mengangkut mereka dan berikan penghidupan yang layak.
Aku gak akan memaki pemerintah dan para petinggi, karena biarpun mereka sediakan anggaran (lewat Dept/Dinas Sosial, mungkin) dan mengangkut mereka ke panti, belum tentu di sana mereka akan dirawat dengan kasih sayang. Aku juga gak akan salahkan para pejuang dakwah, karena mereka sendiri juga sedang sebisa mungkin bertahan dalam kesempitan mereka.
Aku cuma bisa sedih dan tuliskan ini. Entah siapa yang terketuk hatinya. Dan berbuat. Masa depan mereka masih panjang, insya Allah.
Semoga ini bukan kesedihan sesaat yang lantas terlupakan.
Tentang Law of Attraction
Udah agak lama aku baca tentang Law of Attraction yang sempat kusinggung di post kontroversial ini. Ada hal-hal yang kayaknya agak ngawur (dan bisa mbuat akidah bermasalah), memang. Seperti keyakinan bahwa
kesungguhan kita akan membuat alam semesta mengatur dirinya untuk mewujudkan harapan kita.
Gak banget dah.
Perbincanganku dengan adikku belakangan, dan penemuanku akan postingan tentang kemujuran membuatku berpikir.
Mungkinkah yang terjadi seperti ini?
Peneguhan determinasi, kesungguhan diri mencapai tujuan, (mungkin “mengusap-usap” termasuk di dalamnya? Hehehe) membuat kita bergiat mengejarnya. Kemudian kesungguhan dan pengalaman kegiatan itu membuat kita jadi makin peka menangkap peluang yang sebelumnya terlewatkan.
Bukan mbuat pembenaran. Tapi menurutmu gimana ?
Ada lagi yang ajaib
Baru kemarin teman ngajiku cerita, betapa hal-hal yang tak bisa dinalar memang ada. Dia bercerita, dalam rangka syukur ni’mat, bahwa dia tidak pernah membayangkan bisa punya rumah.
Tiba-tiba ada kawannya yang bertanya apakah dia sudah punya rumah sendiri. Setelah dijawabnya belum, dia ditanya berapa jumlah tabungannya. Sewaktu dijawabnya sejumlah 15jt rupiah, uangnya itu diminta, lalu dibuatkan rumah, di Depok. Dia lalu diminta sisanya dicicil saja. Sebelumnya tidak ada yang mau menerima DP sebesar itu.
Kawanku itu berpesan, banyaklah berdoa selama Ramadhan ini.
Bukan, dia bukan seorang tokoh pembesar partai ataupun aleg. Andaikata dia seorang tokoh, tentulah sudah digunjingkan. Naudzubillah
Memang ada yang ajaib
Belakangan ini aku amati ada beberapa yang mampir ke blog ku ini dengan kata cari “ust hilmi harta”. Belum lama aku tahu bahwa dulu (entah kapan) beliau juga pernah “digugat” semacam itu waktu tiba-tiba beliau punya rumah. Orang yg cerita ini ke aku juga ceritakan dari mana sebetulnya rumah beliau itu.
Karena ceritanya gak rinci, aku gak bisa paparkan di sini. Begini saja. Coba dulu nonton film Sang Murobbi. Ustadz Rahmat Abdullah yang penghasilannya gak seberapa tiba-tiba punya motor. Jika hal itu terjadi di jaman sekarang, pasti banyak yang pertanyakan dari mana uangnya. Beliau punya motor memang gak pakai uang kok.
. Seriously, untuk membungkam orang-orang yang ogah nonton tapi nggak mau diam, kukatakan saja. Binaannya urunan mbelikan motor. There. I said it.
Kejadian ajaib semacam ini tidak langka. Biarpun memang nggak juga sering. Yang aku lihat sendiri juga ada.
Duh, jadi ingat salah satu ceramah Ust Zainuddin MZ di kaset, “Kalau orang sudah benci, kita baca Qur’an pun masih salah”.