Prince of Persia Sands of Time Playthrough
Wandering, I found two optimal PoP TSoT playthrough recordings.
The first, also available in HQ format, is named Let’s Play Prince of Persia The Sands of Time. They include the voice of the player, and the sound is not clear. I think they’re vidcam recordings.
The second, is here. It has clearer sound, but is not available in HQ video format.
Sounds of hard drive crashing
I found here lots of MP3 files of HDD crashing sound. Cool. Maybe useful also.
Layar OLED lipat dari Samsung
Aku dapat dari reghardware sebuah video menarik dari Samsung yang mendemokan layar display lebar yang dapat dilipat menjadi ponsel.
Rasanya penjelasanku masih kurang jelas. Lihat saja langsung di bawah ini.
Empati
EMPATI
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang
menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya
terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas
makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan
remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak
melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah
melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri.
Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah
jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah.
Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa
menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan
besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak
itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari
itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa
bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.
Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan
merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap
hari.
Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa
bahagia
dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya.
Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada
mereka.
Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran.
“Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?”
Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo
Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya,
saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia.
Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.
Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di
restoran cepat saji,
kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal
karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah
ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.
Mulailah sekarang juga.
PKS dan Gerbong eksklusif
Ada tulisan yang sangat menarik di warnaislam.com tentang PKS,
Maaf, bila ada yang merasa bahwa kini PKS sudah tidak ’seindah yang dulu’. Maaf bila maaf saya tidak berkenan bagi semua orang.
Saya hanya ingin menggugah semua orang yang membaca tulisan saya, bahwa memang PKS telah berubah menjadi partai yang sesuai dengan habitatnya sebagai sebuah partai.
Saya mendengar banyak sekali keluhan mereka yang tidak puas, yang kecewa, yang menghujat, yang ingin agar PKS kembali seperti dulu, partai yang berjalan sesuai dengan marhalah dakwah.
Juga politisinya seperti Anis Matta dan Ahmad Heryawan.
Marilah kita pisahkan antara partai dan politisi. Saya tahu bahwa seorang Anis Matta itu memang ’sudah kaya’ sebelum dia menjadi seseorang di PKS. Dari hasil dia bekerja, wajar saja bagi saya bila dia punya mobil mewah. Saya dengar bahwa beliau menyumbangkan mobil Avanza miliknya demi kepentingan dakwah Al-Manar. Bukankah itu sudah mencukupi dan kita anggap itu buah rasa syukur dia?
Eh.. eh.. kok saya jadi seperti membelanya ya? Apa ada ‘main-main’? Sumpah demi Allah, tidak ada. Kenal secara pribadi juga tidak. Saya tahu siapa dia, tapi dia tidak pernah kenal saya.
Ahmad Heryawan, yang dulu saya tahu bagaimana saat masih ikut liqo datang dengan segala kesederhanaannya, tapi sekarang coba lihat? Sudah jadi gubernur dia. Sudah biasa naik turun mobil. Sudah lupa sama teman satu liqo nih? Nggak..Tapi, apa salah Anis Matta, kalau dia menjadi kaya? Apa salah Ahmad Heryawan menjadi seorang yang kaya? Apa harus selamanya sederhana seperti saat dia dulu masih liqo sama kita-kita? Hmm.. tidak juga menurut saya.
Tulisan yang cukup berimbang. Salah satu komentar tulisan itu juga sangat menarik, tentang fatalisme.
Kritis namun optimis. Saya suka, karena kebanyakan kita memang sudah tenggelam dalam lembah apatis dan pesimistis. Bukan saja pada PKS tapi pada kehidupan. Hari-hari penuh sakit hati, caci maki, gerutu dan ngambek membuat ruang berfikir positif jadi hilang. Lihat saja gaya bicara, gerak-gerak jari di atas keyboard semua sudah mencerminkan hilangnya asa. Baik dengan menyebut nyebut nama Allah atau pun tidak, yang terpancar hanya rasa imperioritas, tak punya harapan akan sebuah kebaikan. Harapan buruk selalu dalam benak. Padalah Allah SWT mengingatkan agar kita berhati hati dengan prasangka. Lihat saja obrolan di warung-warung hingga diskusi-diskusi dunia virtual, tak ada lagi harapan baik yang terang menguak. Yang ada hanya pernyataan-pernyataan gaya diktator yang haram untuk dibantah. Tidak ada secuilpun kebenaran pada ranah lain, semua yang benar seakan sudah masuk dalam kuasanya. Fakta kebaikan sudah tidak lagi relevan dibanding dengan permainan kata yang dibungkus ayat-ayat. Perasaan ini sudah lebih percaya kabar buruk dari pada kabar baik. Seribu kebaikan tidaklah cukup lagi untuk menutupi satu kekurangan. Yang lain hina dan kitalah seolah kebenaran. Oh umat di negeri kelabu. Kabut gelap yang kita sebarkan sendiri membuat kita tak mampu lagi melihat saudara yang harusnya kita cintai. Dalam kabut ini kita malah lebih senang menjotos muka saudara kita dari pada menggandeng tangannya.
“Tuh, kan memang dia jelek. Tuh, kan memang dia jahat. Tuh, kan memang dia gila”. atau bahkan “Tuh, kan memang dia kafir”. Rentetan kalimat yang lebih sering kita dengar atau baca sekarang. Tiada lagi pancaran aura positif di dalamnya. Kita bukan hanya tenggelam dalam aura sesat ini, namun lebih dari itu, kita juga senang membagikannya kepada saudara kita. Hal ini akhirnya menjadi keasyikan yang menyenangkan dari pada keluar darinya dan memulai benih-benih harapan akan kebaikan. Dimana dapat kami temui bibit ke optimisan? Susah cari jawabnya.
Manusia-manusia virtual yang hidup dimenara gading. Sudah lupa turun ke lapangan realita. Bangga dengan tampak cerdas dengan tumpukan kitab-kitab namun sesungguhnya tumpul akan jeritan sosial. Lebih senang terkungkung dalam ruang persegi daripada berbaur dalam peluh masyarakat. Nyaman dengan lontaran kirtik yang tidak solutif dan lupa akan aksi implementatif. Bagi mereka yang semacam ini, bukan hanya PKS tapi dunia dan akhirat pun tak pantas diharapkan.
Censorship in Gaza
I found a link at reddit to an article titledIsrael Bans International Media from Gaza, Arrests Human Right Activists at Middle East Times.
Aisyah nikah dini?
Inilah.com memuat serangkaian artikel berseri yang mengkritisi kebenaran pernikahan dini Aisyah ra dengan Nabi Muhammad saw. Ini kuberi link ke artikel terakhirnya. Mungkin lebih baik dibaca dari awal.
Kurasa aku perlu banyak belajar lagi sebelum ambil keputusan versi mana yang lebih kuat.
Tapi terus terang aku lebih suka pernikahan dini daripada SMA udah aborsi.
Grand Design Indonesia versi PKS
Inilah.com menurunkan berita tentang Grand Design Indonesia versi PKS. Akan didetailkan pada 2010 sebagai Grand Design Indonesia Baru 2025, sebagai lanjutan dari Platform Kebijakan Pembangunan PKS. Ini cuplikannya
Faktor penting dalam membuat perubahan adalah direction of change (arah perubahan), agent of change (pelaku perubahan) dan engine of change (mesin perubahan). PKS selalu memperhatikan ketiga hal ini.
Yang dicita-citakan oleh PKS memang bukan sekadar menang pemilu atau pilkada, tapi cita-cita kebangsaan, yakni masyarakat madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Atau Indonesia ke depan adalah religious civilize society (masyarakat yang berperadaban materi yang tinggi tapi relijius).Negara-negara maju memang secara moral sosial bagus: kebiasaan antri, korupsi minim, etos kerja tinggi, dll. Tapi gagal dalam moral ritual dan moral susila. Ini keduanya adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Indonesia yang diinginkan PKS tidak seperti itu.
Masalah kepemimpinan juga sangat diperhatikan dalam platform. PKS menginginkan bahwa ke depan kepemimpinan nasional adalah kepemimpinan historis: kepemimpinan karena pergulatan dengan realita dan matang, bukan kepemimpinan mitos.
small-ish debate on BDD
Courtenay started it, stating that his team stopped using rSpec, saying
We wasted a day or two (three, maybe four developers) which equates to several thousand dollars in wasteage. It was also really infuriating — the culmination of a few years of frustration of rSpec’s weirdnesses.
They left rspec and used rr, context, and matchy instead. Many other favorite library proposed in the comments.
Josh Susser compared rSpec with shoulda and test/spec in his The Great Test Framework Dance Off.
David Chelimsky responded and stated that some of Josh’s criticism was true, but
What Josh didn’t know at the time, and this is definitely worthy of a ding for us not documenting things well enough, is rspec’s simple_matcher method that let’s you create simple matchers in just a few lines. Here’s the example in test/unit from Josh’s talk:
def assert_sorted(actual, message=nil, &block)
expected = actual.sort(&block)
assert_equal expected, actual, “Order is wrong:”
end
assert_sorted(tags) { |a,b| a.name b.name }And here’s the same thing with simple_matcher:
def be_sorted
simple_matcher(“a sorted list”) {|actual| actual.sort == actual}
end
[1,2,3].should be_sorted
Dan Croak from Toughtbot fame spoke up also, criticizing another BDD tool, Shoulda, stating that, like rspec, it adds complexity to achieve virtually no result, comparing it to test/unit that is already included in Ruby core library, faster, and simpler.
Later, Pat Maddox refutes it, stating that sometimes a tool is not just a tool. That is, TDD / BDD does do something important. Making him keeping his responsibility
It is my responsibility to keep existing code working, to improve existing code to make it more maintainable, and to write new code that functions and is maintainable. The best way I’ve found to do this is to do TDD. It’s not the only way, of course, just like GTD isn’t the only system for managing your workload. But it’s proven to be pretty damn effective.

